Ustadz Menjawab
Jadwal Shalat
Kota : Jakarta
Minggu, 24 Juni 2018
Al-Ahad, 11 Syawal 1439
Imsak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB
Agenda
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 29/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Drs. H. Mahfud Shodar, M.Ag
    Khutbah :
    Evaluasi Diri di Tahun Masehi
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 22/12/2017
    Jam :
    11:40 WIB
    Khatib :
    Drs.KH. Ilhamullah Sumarkan, MAg
    Khutbah :
    Konsep Membuka Pintu Keberkahan Keluarga
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 15/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Prof. Dr. H.M. Abdul Haris, MA
    Khutbah :
    Jalan Menuju Ma'rifat Billah
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 08/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    KH. Abdurrahman Nafis, Lc
    Khutbah :
    Tanda Tanda diterimanya Suatu Amal Ibadah
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 01/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Prof Dr.H. Ahmad Faishol Haq, M.Ag
    Khutbah :
    Hakekat Bersholawat
    Imam :
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Rabu, 04/07/2018
    Jam :
    10:00 WIB
    Nara Sumber :
    Prof. Mukhtarudin Nasyima
    Tema :
    Taklim Rabu
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Senin, 02/07/2018
    Jam :
    08:00 WIB
    Nara Sumber :
    Dr. H. Zahruddin Sulthani
    Tema :
    Tafsir Senin
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 29/06/2018
    Jam :
    08:00 WIB
    Nara Sumber :
    H. Memed Sururi
    Tema :
    Tafsir
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Rabu, 27/06/2018
    Jam :
    10:00 WIB
    Nara Sumber :
    Prof. Mukhtarudin Nasyima
    Tema :
    Taklim Rabu
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Senin, 25/06/2018
    Jam :
    08:00 WIB
    Nara Sumber :
    Dr. H. Zahruddin Sulthani
    Tema :
    Tafsir Senin
Qur'an
Player

JUZ

Perspektif

Melepas Ramadhan, Menyambut Idul Fithri
lebaran

Melepas Ramadhan, Menyambut Idul Fithri
Oleh: Dr. Umar Siwoon Haddad, MA
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Akhirnya tibalah Hari Raya itu. Sejak terbenamnya matahari akhir Ramadhan kemarin, segera kita menyongsong kehadiran ‘Ied al-Fithr al-Mubarak, hari raya yang penuh berkah. Kita menyambutnya dengan sukacita, yang antara lain ditunjukkan dengan mengumandangkan takbir dan tahmid, kalimat-kalimat yang mengisi segenap ruang hati dan jiwa kita serta meramaikan suasana lingkungan dan tempat-tempat ibadah kita,  Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd!

Kemampuan kita melewati ibadah Ramadhan yang penuh berkah hingga sampai pada hari raya ‘Idul Fithri merupakan suatu ni’mat Allah yang pantas disyukuri.

“dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (puasa)-nya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur (QS. Al-Baqarah : 185)

Kita memang pantas bergembira dalam menyambut Hari Raya, kegembiraan yang merupakan proses alami dari sebuah keberhasilan. Dalam konteks puasa, kegembiraan tersebut sesungguhnya merupakan salah satu ni’mat yang diberikan Allah bagi orang-orang menunaikannya. Rasul SAW dalam sebuah hadits menyatakan;
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan saat berbukanya, dan kegembiraan saat berjumpa dengan Tuhannya.” (HR. An-Nasa’i)

Kegembiraan saat berbuka yang disebutkan dalam hadits tersebut dimaknai, baik kegembiraan setiap hari puasa, maupun saat berbuka di hari raya Idul Fithri.
Di samping kegembiraan kita menyambut Hari Raya, bisa jadi kita juga merasakan kesedihan karena perpisahan kita dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah; bulan yang mengasah, mengasuh dan mendidik jiwa kita. Tidak ada lagi tarawih berjamaah, tidak ada lagi sahur bersama keluarga, tidak ada lagi puasa yang membentengi diri kita dari berbuat munkar. Selama puasa, ketika kita tergoda untuk marah, mengumpat orang, bergosip, selalu muncul bisikan hati; “inni sha’im” = aku sedang puasa, sehingga kita dan lingkungan kita pun terhindar dari perbuatan tersebut demi menjaga kualitas puasa kita.

Demikianlah sebagian dari ni’matnya Ramadhan yang kita rasakan sebulan penuh, dan kini meninggalkan kita dengan kehadiran Idul Fithri. Untuk segala keindahan Ramadhan itu, tentunya kitapun patut bersedih melepasnya, oh Ramadhan.. 

Namun kita tidak perlu khawatir jika makna-makna puasa Ramadhan telah melekat dalam jiwa kita. Ketika ajaran-ajaran yg kita peroleh melalui ibadah Ramadhan sudah terpatri di dalam jiwa kita, tentunya nilai-nilai ajarannya akan tetap membimbing jalan hidup kita. 

Jika Ramadhan benar-benar kita jadikan sebagai “madrasah” bagi kita, maka meskipun ia berlalu, ajaran-ajaran dan hikmahnya tetap akan menghiasi diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Pesan inilah yang hendak diingatkan dalam ungkapan; kun robbaniyyan wa la takun ramadhaniyyan; ”jadilah manusia rabbani, dan janganlah menjadi manusia ramadhani. Maksudnya, jadilah ”Manusia Rabbani”; jadilah ”hamba Allah”, manusia yg menghiasi diri dg akhlaq ketuhanan, yg memiliki sifat-sifat mulia yang diperoleh melalui ibadah Ramadhan. Jangan menjadi ”hamba Ramadhan”; yg kebaikannya digantungkan dengan kehadiran Ramadhan, hanya menjadi baik dalam bulan Ramadhan saja, ketika sang Ramadhan berlalu, maka kebaikannyapun sirna.., ketika Ramadhan pergi, sifat-sifat baik yang menghiasi dirinya selama Ramadhan pun pergi bersama Ramadhan!

Ketika menyambut kedatangan Ramadhan, kita mengucapkan ”Marhaban Ya Ramadhan”, kalimat yang mengandung ketulusan untuk mengatakan ”selamat datang wahai Ramadhan, bulan di mana kami dapat melatih dan membina diri untuk menjadi hamba Allah yang baik, di mana Allah melimpahkan rahmat dan nafahat (karunia) seluas-luasnya, memberikan ampunan bagi kami yg ingin bertaubat, melipatgandakan pahala perbuatan baik yg kami lakukan, memerintahkan kami berpuasa untuk melatih kami mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsu yg selalu mengajak kami berbuat keburukan..”.

Saat ini, ketika kita mengucapkan mengucapkan ”selamat jalan wahai Ramadhan”; kita mengucapkannya dengan penuh syukur dan segenap harap agar kembali dapat menjumpainya pada tahun yang akan datang, tentunya dengan tetap ber-istiqamah dalam ajaran Ramadhan, dengan memantapkan nilai-nilai ajaran puasa yang diperoleh sehingga memberikan bekas bagi peningkatan kualitas kemanusiaan kita, keimanan kita dan keislaman kita. Inilah salah satu renungan yang hendaknya mengisi kegembiraan kita di hari raya yang penuh berkah ini, Minal A’idiin wal Fa’iziin, Taqabbalallahu Minna wa Minkum.