Ustadz Menjawab
Jadwal Shalat
Kota : Jakarta
Minggu, 22 Juli 2018
Al-Ahad, 10 Dzul Qa'dah 1439
Imsak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB
Agenda
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 29/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Drs. H. Mahfud Shodar, M.Ag
    Khutbah :
    Evaluasi Diri di Tahun Masehi
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 22/12/2017
    Jam :
    11:40 WIB
    Khatib :
    Drs.KH. Ilhamullah Sumarkan, MAg
    Khutbah :
    Konsep Membuka Pintu Keberkahan Keluarga
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 15/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Prof. Dr. H.M. Abdul Haris, MA
    Khutbah :
    Jalan Menuju Ma'rifat Billah
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 08/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    KH. Abdurrahman Nafis, Lc
    Khutbah :
    Tanda Tanda diterimanya Suatu Amal Ibadah
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 01/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Prof Dr.H. Ahmad Faishol Haq, M.Ag
    Khutbah :
    Hakekat Bersholawat
    Imam :
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Rabu, 01/08/2018
    Jam :
    10:00 WIB
    Nara Sumber :
    Prof. Mukhtarudin Nasyima
    Tema :
    Taklim Rabu
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Senin, 30/07/2018
    Jam :
    09:00 WIB
    Nara Sumber :
    Dr. H. Zahruddin Sulthani
    Tema :
    Tafsir Senin
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 27/07/2018
    Jam :
    08:00 WIB
    Nara Sumber :
    H. Memed Sururi
    Tema :
    Tafsir
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Rabu, 25/07/2018
    Jam :
    10:00 WIB
    Nara Sumber :
    Prof. Mukhtarudin Nasyima
    Tema :
    Taklim Rabu
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Senin, 23/07/2018
    Jam :
    08:00 WIB
    Nara Sumber :
    Dr. H. Zahruddin Sulthani
    Tema :
    Tafsir Senin
Qur'an
Player

JUZ

Kiprah dan Da'wah

Masjid Beras Segenggam
Dakwah

BANGUNAN tua bercat putih itu berdiri kokoh di pinggiran Jalan Banda Aceh. Dua menara menjulang ke angkasa mengapit sebuah kubah di tengahnya. Bangunan itu adalah masjid Baitul A’la Lilmujahidin atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan masjid Abu Beureueh atau masjid beras segenggam.

Nama masjid tersebut diambil dari salah satu tokoh di Aceh yang memprakarsai pembangunan masjid, yakni Teungku Muhammad Daud Beureueh. Sedangkan masjid segenggam berasal dari sejarah masjid yang pembangunannya didanai dari sumbangan segenggam beras yang dikumpulkan warga Aceh dan sekitarnya.

Masjid seluas 1.350 meter persegi ini dibangun pada tahun 1950. Letaknya di Kota Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Pidie, Aceh. Pembangunan masjid mulai dari penimbunan hingga pondasi dikerjakan warga Mutiara yang berada di sekitar masjid secara sukarela.

Pembangunannya sempat tertunda sampai sepuluh tahun akibat konflik DI/TII di Aceh. Pembangunan masjid baru dilanjutkan kembali pada tahun 1963 setelah pemberontakan reda.

Bagi masyarakat Pidie khususnya, masjid ini mempunyai nilai sejarah. Semasa Abu Beureueh masih hidup, banyak masyarakat yang melintas baik dari arah Timur maupun Barat yang mampir untuk melaksanakan salat Jumat di masjid yang dihiasi relief flora ini.

Di belakang masjid, terletak makam Abu Beureueh. Makam tersebut dipagar dengan teralis putih. Di dalamnya terdapat dua pohon jarak dan batu nisan bertuliskan “Tgk Syi’ Di Beureu’eh (Tgk. Muhammad Dawud Beureu’eh), Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 September 1899), Wafat Rabu 14 Zulqaidah 1407 (10 Juni 1987).”

Meski Abu Beuereueh telah wafat, namun masjid ini masih ramai disinggahi masyarakat yang melakukan perjalanan. Selain beribadah, warga yang datang juga melakukan ziarah ke makam Abu.

Namun demikian, pengelola masjid tidak membolehkan penziarah melakukan salat atau menggantungkan kain putih di sisi makam. Hal ini sesuai dengan amanah Abu Beureueh yang menilai tindakan itu perbuatan syirik.

Saat bulan Ramadan, masjid itu selalu penuh jamaah. Bahkan di depan masjid kini telah didirikan dua tenda untuk menampung jamaah salat tarawih. Masjid segenggam ini menjadi simbol gotong royong warga Aceh dan sekitarnya yang secara sukarela memberikan bantuan fisik atau materi untuk pembangunan masjid. | sumber: detik.com