Ustadz Menjawab
Jadwal Shalat
Kota : Jakarta
Kamis, 16 Agustus 2018
Al-Hamis, 5 Dzul Hijjah 1439
Imsak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB
Agenda
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 29/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Drs. H. Mahfud Shodar, M.Ag
    Khutbah :
    Evaluasi Diri di Tahun Masehi
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 22/12/2017
    Jam :
    11:40 WIB
    Khatib :
    Drs.KH. Ilhamullah Sumarkan, MAg
    Khutbah :
    Konsep Membuka Pintu Keberkahan Keluarga
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 15/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Prof. Dr. H.M. Abdul Haris, MA
    Khutbah :
    Jalan Menuju Ma'rifat Billah
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 08/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    KH. Abdurrahman Nafis, Lc
    Khutbah :
    Tanda Tanda diterimanya Suatu Amal Ibadah
    Imam :
  • Agenda Jum'at
    Masjid :
    Masjid Al-Akbar Surabaya
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 01/12/2017
    Jam :
    11:30 WIB
    Khatib :
    Prof Dr.H. Ahmad Faishol Haq, M.Ag
    Khutbah :
    Hakekat Bersholawat
    Imam :
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 31/08/2018
    Jam :
    08:00 WIB
    Nara Sumber :
    H. Memed Sururi
    Tema :
    Tafsir
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Rabu, 29/08/2018
    Jam :
    10:00 WIB
    Nara Sumber :
    Prof. Mukhtarudin Nasyima
    Tema :
    Taklim Rabu
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Senin, 27/08/2018
    Jam :
    09:00 WIB
    Nara Sumber :
    Dr. H. Zahruddin Sulthani
    Tema :
    Tafsir senin
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Jum'at, 24/08/2018
    Jam :
    08:00 WIB
    Nara Sumber :
    H. Memed Sururi
    Tema :
    Tafsir
  • Agenda Pengajian
    Masjid :
    Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran
    Hari, Tanggal :
    Senin, 20/08/2018
    Jam :
    09:00 WIB
    Nara Sumber :
    Dr. H. Zahruddin Sulthani
    Tema :
    Tafsir senin
Qur'an
Player

JUZ

Kiprah dan Da'wah

Masjid Jami Al-Makmur
Dakwah

Azan maghrib sebentar lagi berkumandang. Karpet hijau bergambar masjid digelar di teras Masjid Jami Al-Makmur, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017). Beberapa pria menata sajian untuk berbuka puasa bersama. Syahdu selawat Nabi Muhammad SAW terdengar dari pengeras suara masjid. "Ini semua sumbangan dari warga. Ada yang membawa lontong, es buah, pastel, dan ada sumbangan permen dari sponsor.

Ini untuk mereka yang berbuka puasa dan shalat Maghrib di sini," ujar Isa (57), warga dan jemaah masjid itu. Pada saat Ramadhan, masjid yang diperkirakan sudah ada sejak 1860 itu ramai. Ada yang sekadar mampir untuk menunggu berbuka puasa atau shalat berjemaah. Namun, untuk warga sekitar di Jalan Raden Saleh, masjid untuk beribadah mulai dari menjelang maghrib, tarawih, hingga sahur. Warga sekitar melaksanakan shalat berjemaah, tadarus, dan iktikaf di masjid. "Kami juga menyediakan takjil untuk mereka yang kebetulan melintas di Jalan Raden Saleh ini.

Pengunjung atau pembesuk di Rumah Sakit Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) juga kerap beribadah di sini," ucap Syahlani (69), Ketua Pengurus Masjid Jami Al-Makmur. Masjid Jami Al-Makmur terletak di lokasi strategis di kawasan Cikini. Bangunan bercat dominan putih dan hijau itu kini berdiri di Jalan Raden Saleh Raya Nomor 30, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Lokasinya di samping aliran Ciliwung di pinggir jembatan Raden Saleh. Namun, Syahlani mengatakan, sebelum dipindah ke lokasi saat ini, masjid itu sebelumnya berada di dalam kompleks rumah Raden Saleh. Lokasinya 80-100 meter dari tempat berdirinya masjid saat ini. Lokasi lama sekarang menjadi asrama RS PGI Cikini. Antara lokasi lama dan lokasi baru dipisahkan pagar pembatas. Abdul Baqir Zein dalam buku Masjid Masjid Bersejarah di Indonesia (Gema Insani, 1999) menuliskan, dahulu, Masjid Jami Al-Makmur berdiri di atas tanah kosong milik Raden Saleh Syarif Bustaman atau maestro pelukis Raden Saleh. Sebelum hijrah dan menikah dengan istrinya di Bogor, Raden Saleh mewakafkan sebagian tanahnya untuk didirikan masjid.

Masjid sangat sederhana. Dindingnya dari bambu (gedek), berukuran kecil seperti rumah panggung. "Dari cerita turun-temurun warga Cikini Binatu (Jalan Raden Saleh), saat masjid dipindahkan ke lokasi sekarang, warga beramai-ramai menggotong bangunan itu," ujar Syahlani. Setelah hijrah ke Bogor, Raden Saleh menjual seluruh tanah miliknya, termasuk bangunan masjid, kepada tuan tanah keturunan Arab, keluarga Alatas. Lalu, kawasan itu disebut Alatas Land. Di tangan keluarga Alatas, tanah kembali dijual kepada Yayasan Ratu Emma, yayasan misionaris Kristen milik orang Belanda yang bergerak di pelayanan sosial, dan rumah sakit. Masjid Cikini lalu dipindahkan beberapa meter dari tempat asalnya dengan cara memanggulnya secara bergotong royong. Sempat ada permintaan dari yayasan agar masjid direlokasi agak lebih jauh dari tempatnya kini. Namun, berkat campur tangan tokoh-tokoh Islam, seperti HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abikusno Cokrosuyoso, masjid Cikini pun tetap berada di tempatnya. Agus Salim memasang lambang bulan sabit dan bintang agar Belanda tidak berani mengganggu. Lambang itu kini masih ada di bagian depan masjid. Cagar budaya Tahun 1993, Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto menetapkan Masjid Jami Al-Makmur sebagai benda cagar budaya. Kini, masjid tidak hanya menjadi rumah ibadah, tetapi juga memiliki sekolah dan madrasah yang berada satu kompleks dengan masjid. Madrasah menerima siswa setingkat SD, SMP, dan SMA dan memberikan pelajaran di antaranya Al Quran, Hadis, Inadah Syari'ah, Fikih, Akidah, Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, serta Bahasa Arab. Syahlani menuturkan, saat dipindahkan ke lokasi sekarang, jemaah masjid lebih mudah mengambil air wudu karena lokasinya berdekatan dengan Sungai Ciliwung. Saat Syahlani masih kecil, air sungai masih sangat bersih hingga lapisan pasir di bawahnya terlihat. Orang-orang berwudu di sungai, lalu naik ke masjid melalui tangga berundak. "Tahun 1980-an, masjid direnovasi, lalu tangga yang menghubungkan antara masjid dan tempat wudu ditutup," tutur Syahlani. Sekitar tahun 1980, masjid digunakan untuk beribadah warga Paseban, Kramat Lontar, Senen, karena lokasinya yang ada di tengah-tengah. Bangunan masjid juga terdiri dari dua bagian, yaitu bagian atas (baru) dan bawah (lama). Saat hari biasa, masjid bangunan lama dibuka untuk shalat berjemaah dan melayani para pengunjung. Adapun saat tarawih dan bulan Ramadhan, seluruh bagian masjid dibuka karena banyaknya jemaah yang datang. Menurut Syahlani, arsitektur dari Masjid Jami Cikini banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. Atap masjid ini berbentuk limas terpancung dengan lengkung di ujung atap mirip bangunan kelenteng. Lalu, di bagian belakang masjid tersebut juga ada sebuah kubah yang berbentuk bulat. Normalisasi kali Masjid juga sudah beberapa kali mengalami renovasi. Syahlani mengingat ada perseteruan yang lumayan keras antara warga dan pemerintah saat hendak menormalisasi Kali Ciliwung. Pada 1990-an, pemerintah melaksanakan program normalisasi kali sepanjang 8 x 10 meter untuk membangun jalan inspeksi di tepi Ciliwung. Dampak dari normalisasi itu, sebagian pagar masjid yang berbatasan dengan Ciliwung terpotong dan rusak. "Berkat perlawanan warga dan dialog antara pengurus yayasan dan Wali Kota Jakarta Pusat saat itu, masjid akhirnya tidak jadi tergusur. Hanya bagian tempat wudu saja yang menyempit," kata Syahlani. Kini, Masjid Jami Al-Makmur tegak berdiri meski ada beberapa kerusakan, seperti atap yang kerap bocor. Saat Ramadhan, masjid memberikan hingga 200 paket makanan berbuka gratis kepada pengunjung. Sejumlah orang ternama pun pernah beribadah di masjid tersebut, seperti Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Fuad Bawazier, dan Anies Baswedan. Saat mengunjungi masjid tersebut, Anies Baswedan berkeinginan masjid juga menjadi tempat wisata sejarah dan religi. Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Juni 2017, di halaman 27 dengan judul "Wakaf Raden Saleh di Pinggir Ciliwung".

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Masjid Jami Al-Makmur, Wakaf Raden Saleh di Pinggir Ciliwung", https://megapolitan.kompas.com/read/2017/06/05/19100031/masjid.jami.al-makmur.wakaf.raden.saleh.di.pinggir.ciliwung